"Barangsiapa
yang mengerjakan kebaikan seberat biji sawi sekalipun, niscaya dia akan melihat
(balasan) nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar seberat biji
sawi sekalipun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula.” (QS. Al
Zalzalah: 7-8)
Alkisah,
di sebuah desa yang permai, hiduplah sebuah keluarga bahagia yang di rumahnya
terdapat seekor tikus, ayam dan kambing. Karena mengetahui ada tikus
dirumahnya, sang pemilik rumah pun membeli sebuah perangkap tikus. Mengetahui perangkap
yang akan mengancam jiwanya, si tikus pun gelisah bukan main. Dia berlari
kencang menuju si Ayam, berharap mendapat bantuan. “Gawat yam gawaaat. Majikan kita naruh perangkap tikus dirumah. Namun
sayang, si ayam hanya menoleh sambil menjawab, "So what? Gue mah ga peduli. Yang penting kan gue selalu jadi ayam
kesayangan majikan."
Mendengar jawaban si Ayam, Tikus pun merasa sedih. Namun ia pantang menyerah. Ia berlari terengah-engah menuju si Kambing dan menceritakan masalah yang sama. “Perangkap tikus? Ih ngerii juga ya, tapi maaf Kus itu tidak ada urusannya denganku. Pergilah, aku mau melanjutkan menyantap rumput-rumput segar ini.”
Mendengar jawaban kambing dan ayam, rasanya harapan tikus pun sirna. Kemudian ia mengurung diri di rumahnya. Ia tak pernah sedikitpun terlihat keluar karena sangat ketakutan. Suatu hari seekor ular yang sedang kelaparan, mencari keberadaan tikus. Namun sayang sungguh sayang ia gagal menemukannya. Ia pun bertanya pada Kambing, namun kambing juga sudah lama tidak melihat tikus. Kemudian, ular pun bertemu dengan ayam dan menanyakan keberadaan tikus. Ayam pun tidak tahu. Ia bilang pada ular bahwa mungkin tikus sudah mati kena perangkap sang majikan. Mendengar berita itu, ular sangat kesal. Karena ia sudah tidak kuat menahan rasa laparnya, maka ia pun melahap si Ayam sebagai gantinya.
Mendengar jawaban si Ayam, Tikus pun merasa sedih. Namun ia pantang menyerah. Ia berlari terengah-engah menuju si Kambing dan menceritakan masalah yang sama. “Perangkap tikus? Ih ngerii juga ya, tapi maaf Kus itu tidak ada urusannya denganku. Pergilah, aku mau melanjutkan menyantap rumput-rumput segar ini.”
Mendengar jawaban kambing dan ayam, rasanya harapan tikus pun sirna. Kemudian ia mengurung diri di rumahnya. Ia tak pernah sedikitpun terlihat keluar karena sangat ketakutan. Suatu hari seekor ular yang sedang kelaparan, mencari keberadaan tikus. Namun sayang sungguh sayang ia gagal menemukannya. Ia pun bertanya pada Kambing, namun kambing juga sudah lama tidak melihat tikus. Kemudian, ular pun bertemu dengan ayam dan menanyakan keberadaan tikus. Ayam pun tidak tahu. Ia bilang pada ular bahwa mungkin tikus sudah mati kena perangkap sang majikan. Mendengar berita itu, ular sangat kesal. Karena ia sudah tidak kuat menahan rasa laparnya, maka ia pun melahap si Ayam sebagai gantinya.
Keesokan
harinya, sang pemilik rumah murka melihat ayam kesayangannya hilang. Seisi
rumah pun sibuk mencari kesana kemari namun si ayam tiada kunjung ditemukan.
Sang pemilik rumah pun menduga kalau si ayam telah dimakan si ular. Lalu
pemilik rumah dengan dibantu tetangga-tetangganya ramai mencari keberadaan ular
tersebut. Akhirnya ditemukan dan dibunuhlah ular itu. Untuk merayakan
keberhasilannya, sang pemilik rumahpun menyembelih kambingnya sebagai rasa
terimakasih kepada para tetangganya karena telah membantu menemukan ular
sialan yang diburunya.
Guys, itulah
analogi orang-orang yang apatis dan tidak peduli dengan sekitar. Kisah itu saya
dapatkan di acara Weekend bareng Hi Lo di Blackbone Coffee & Bistro sebulan
yang lalu. Kebetulan saya dan dua teman saya (Alda & Bagus) diundang
sebagai perwakilan dari komunitas Sobat Bumi Semarang. Narasumbernya langsung
dari Pak Benny Danang, dosen Unika yang bergerak dibidang lingkungan alias
environmental expert. Meskipun bahasa ceritanya tidak sama persis seperti yang
beliau ceritakan, namun kurang lebihnya seperti itu hehe.
Belajar dari
kisah diatas, ketika kita
memutuskan untuk tidak peduli dengan urusan kecil orang lain, maka kita tidak
pernah tahu bahwa boleh jadi kelak urusan kecil tersebut justru akan menjadi bumerang bagi
kita. Contoh kecilnya yaitu kepedulian kita terhadap lingkungan. Seringkali
kita apatis dengan lingkungan sekitar. Membuang bungkus permen dari dalam mobil
/ motor di jalan-jalan. "Alah itu kan cuma
bungkus permen, kecil. Paling ntar juga disapu sama tukang sapu jalanan." Nah
mental-mental yang kaya gini nih, yang perlu diperbaiki. Bayangin aja kalau
jutaan orang Indonesia melakukan hal yang sama. Bisa jadi bungkus permen
beterbangan di jalan-jalan, nyungsep ke selokan dan bikin banjir deh.
Ah bukannya kalau kita melihat bencana di daerah
lain kita cuek. Banjir? Yang penting bukan daerah kita. Kebakaran hutan? Kan di
Riau, jauh. Ngga nyampe sini lah. Tanah longsor? Hello, gue tinggalnya di
perumahan elit kale. Bayangin aja kalau sewaktu-waktu kita yang kena bencana itu.
Rumah kita kebakaran, atau kebanjiran. (Nauzubillah). Mau alibi apa lagi kita?
Bukankah Allah bias melaknat kita sewaktu-waktu? Lihatlah apa yang terjadi dengan
si Ayam dan Kambing yang cuek dan apatis dengan sekitar? Merekalah yang mati
duluan. Sedangkan si Tikus? Dialah satu-satunya yang masih terselamatkan. Jadi,
yang perlu kita lakukan adalah membuka hati kita untuk mau peduli dengan urusan
orang-orang di sekitar kita. Ingatlah bahwa kebaikan dan kejahatan sekecil
apapun akan mendapat balasannya. Yep, the law of moral causition atau hukum sebab-akibat moral. Di agama Budha hal itu disebut sebagai karma. Sedangkan dalam Islam sudah disebutkan di surat Al-Ahzab ayat 7-8, yang intinya menceritakan bahwa Alah itu Maha Adil. Jadi, segala perbuatan manusia pasti ada balasannya, baik itu di dunia atau di akhirat. Itu ayat
Alqur’an loh, sumbernya langsung dari Allah, bukan dari manusia. Bukankah janji-Nya
itu pasti?
Menariknya, selain Pak Benny terdapat juga dua
narasumber yang nggak kalah keren, yaitu Mas Cahyadi (Runner Up Hi Lo Green Leader 2015) dan Mba
Disma (Miss Earth Indonesia ECO Friendly Costume 2014.) Ada juga Green Fashion
Show, yang kostumnya terbuat dari plastik daur ulang dan bakau. Jadi nggak
ngerusak alam gitu, keren kan karya anak bangsa kita? :)





No comments:
Post a Comment