Monday, 6 April 2015

Desember Kelabu

Dia tertunduk lesu
Tak sedikitpun mulutnya mengeluarkan suara
Dulu harapannya melambung hingga menyentuh bintang
Namun kini bintang itu terbanting berkeping-keping ke bumi

Laksana petir yang memekakkan telinga
Sungguhkah yang ia dengar?
Pengakuan mengagetkan yang sulit untuk dipercaya

Cukup lama ia hanya terdiam
Mengusir embun yang memberat dimatanya
Mengusir rasa terkejut yang membekukan perasaannya

Dia berbisik pada-Nya,
“Tuhan ini menyakitkan”
“Tuhan, berapa lama aku harus menata ulang perasaanku lagi?”

Tertatih ia berusaha bangun dari hampa
Membiarkan waktu menepis semua kenangan indahnya
Membiarkan waktu menyembuhkan kesedihannya


-Semarang, Desember 2014-