Tak sedikitpun mulutnya
mengeluarkan suara
Dulu harapannya melambung hingga menyentuh bintang
Namun kini bintang itu terbanting berkeping-keping ke bumi
Laksana petir yang memekakkan
telinga
Sungguhkah yang ia dengar?
Pengakuan mengagetkan yang sulit untuk
dipercaya
Cukup lama ia hanya terdiam
Mengusir embun yang memberat dimatanya
Mengusir rasa terkejut yang membekukan perasaannya
Dia berbisik pada-Nya,
“Tuhan ini menyakitkan”
“Tuhan, berapa lama aku harus
menata ulang perasaanku lagi?”
Tertatih ia berusaha bangun dari hampa
Membiarkan waktu menepis semua kenangan indahnya
Membiarkan waktu menyembuhkan kesedihannya
-Semarang, Desember 2014-